Oleh: Qiki Qilang Syachbudy
Kehidupan
anak-anak di kampung memang jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak di
perkotaan. Kehidupan dengan alam sangat terasa begitu dekat. Alam perkampungan
merupakan pengasuh setia kami yang selalu ramah penuh dengan kehangatan.
Berbeda dengan para pengasuh anak-anak di kota yang bekerja dengan motivasi
rupiah.
Alam
bagi kami merupakan sebuah keanggunan tersendiri yang selalu akan dirindu
setiap saat. Di saat pagi-pagi kami sudah pergi ke mushola untuk menunaikan
sholat subuh yang kemudian dilanjutkan dengan mengaji Alquran. Ketika matahari
sudah terbit kami segera pulang dan persiapan untuk menuju sekolah. Setelah
segala persiapan selesai, kami bersama-sama pergi ke sekolah dengan sepatu yang
ditenteng karena takut kotor ketika melewati sawah yang ada di sekitar sekolah
SD inpres.
Kehidupan
yang tak pernah melelahkan pada waktu itu memang sangat terasa. Jika waktu
sekolah selesai, kami segera pulang untuk makan siang dan menunaikan sholat
dzuhur. Setelah itu, segera kami lari ke sungai terdekat untuk ngebak, atau dalam bahasa Sunda berarti
mandi di sungai pada siang hari. Disanalah kami saling bercengkarama dan
melakukan beberapa permainan seperti ucing-ucingan,
lempar koin, balap renang, dan sebagainya. Sementara itu, beberapa teman
yang lain ngobeng, atau dalam bahasa
Sunda berarti menangkap ikan dengan tangan.
Selain
ngebak, kami juga di siang hari
sering melakukan petualangan ke hutan di pinggir gunung untuk mencari
bermacam-macam buah-buahan hutan atau mencari kayu bakar untuk kebutuhan
keluarga. Meskipun petualangan itu jauh daripada pantauan orang tua, namun kami
tak pernah takut, dan orang tua pun tak pernah khawatir. Sebab kami memang
hidup dengan alam, dan alam merupakan pengasuh yang selalu tersenyum dengan
ramah.
Menjelang
waktu ashar biasanya kami sudah pulang karena harus melakukan pekerjaan rumah
seperti memberi makan ayam serta persiapan untuk pergi ke mushola, belajar
ngaji Alquran atau kitab kuning.
Ketika
sholat isya selesai, biasanya kami melakukan berbagai permainan tradisional,
seperti ucing-ucingan, petak umpet, papadengkrakan, dan sebagainya. Tapi
tunggu dulu, kadang permainan tradisional itu kami bisa cancel ketika ada pertunjukan wayang golek di radio atau di hajatan
pernikahan atau khitanan yang lokasinya dekat dengan kampung yang kami tinggali.
Meskipun
masih tergolong anak-anak, tetapi kami sudah bisa mengidolakan dalang Asep
Sunandar Sunarya (Alm.). Alasan kenapa kami menyukai Asep Sunandar Sunarya
sebetulnya sangat sederhana, yaitu karena ia sangat fasih dalam memerankan
tokoh Si Cepot yang biasanya muncul pada sekitar jam 12 malam untuk memecah kantuk
penonton agar terus bisa menyelesaikan cerita sampai selesai. Begitulah
kehidupan kami sebagai anak kampung yang tentu sangat berbeda dengan kehidupan
anak-anak di kota yang sudah mengenal mall
dan gadget.
Setelah
kami dewasa, tentu semuanya sudah berubah. Kehidupan kampungpun sudah dimasuki
oleh hingar bingar listrik dan jalan aspal yang membentang. Anak-anak sekarang,
jangankan masuk keluar hutan, jalan keluar rumahpun harus memakai sepeda motor.
Malam-malam menjadi sepi karena anak-anak muda sibuk dengan memainkan media
sosial. Sementara itu para orang tua khusyuk dengan kelanjutan sinetron yang
ada di televisi dari episode ke episode. Adapun beberapa anak remaja di luar
rumah, mereka hanya bermain gitar karena hidupnya sedang dirundung sulit cari
kerja karena rendahnya pendidikan yang mereka miliki.
Melihat
keadaan ini saya kadang merasa sedih. Kehidupan yang sewaktu kecil saya rasakan
sangat ramah, sekarang menjadi kering. Dulu kami merasakan semangat hidup yang
sangat membara di dalam hati. Sebagai anak kecil, kami merasa sangat terobsesi
dengan tokoh Bima yang sangat kuat karena memiliki kuku pancanaka dan Gatot Gaca sang pangeran dari Pringgandani yang
memiliki kemampuan terbang. Selain itu juga kami kagum dengan tokoh Kresna yang
bijaksana dan tokoh Semar yang sederhana dan sangat bijaksana, penuh dengan
philosofi kehidupan.
Bagi
saya pribadi, pertunjukan wayang golek yang dahulu ditonton baik secara
langsung maupun lewat radio, telah memberikan wawasan batin yang sangat
berharga untuk saat ini. Terutama dalam hal keagamaan, saya sangat terinspirasi
dengan tokoh Semar yang merupakan singkatan dari sem yang berarti pengangken-ngangken, dan mar yang berati menyemarakkan Dzat Tuhan, Allah SWT, yang berarti
mengandung arti sebagai dakwah. Tokoh Semar merupakan tokoh yang sangat
sederhana dan penuh dengan perlambang. Dari cara jalannya pun ia berjalan
satu-dua langkah, kemudian menengok ke belakang, perlambang bahwa hidupnya
selalu penuh dengan kehati-hatian.
Melihat
tayangan di televisi beberapa hari yang lalu mengenai berita di Kabupaten Purwakarta,
saya kemudian sejenak merenung. Saya merasa aneh kenapa patung-patung wayang
golek saat ini menjadi sangat ditakuti oleh masyarakat sehingga mereka
menghancurkannya dengan alasan agama. Padahal, saya sendiri yang merupakan
penggemar wayang golek dari mulai kecil sampai dewasa, tidak pernah merasa
kepercayaan saya terganggu oleh wayang golek. Malah saya rasa, wayang golek
adalah kesenian yang sangat luhur dengan nilai agama dan tatakrama.
Terlepas
dari apakah di Purwakarta itu adalah tindakan politik ataupun tidak. Namun saya
pribadi sangat miris karena yang membangun dan yang menghancurkan patung wayang
golek itu adalah sama-sama masyarakat Pasundan. Wayang golek merupakan sebuah
kesenian yang sudah hidup berabad-abad lamanya di Tatar Pasundan, namun gambar
dan patungnya pun sampai saat ini masih menjadi perdebatan dan asing. Yang
menjadi lebih miris adalah ketika ada patung atau gambar produk asing yang
memenuhi jalan-jalan raya, pusat-pusat perbelanjaan, dan media-media, justru
tidak ada yang protes dengan keras.
Hal ini tentu menjadi bahan renungan bukan hanya untuk masyarakat Pasundan, namun juga bagi seluruh rakyat Indonesia, mengenai sebuah fenomena semakin asingnya budaya di tanahnya sendiri. Hal ini juga menjadi bahan renungan bagi saya tentang fenomena generasi muda di kampung yang lebih merasa menjadi masyarakat kota daripada merasa sebagai orang kampung.
Hal ini tentu menjadi bahan renungan bukan hanya untuk masyarakat Pasundan, namun juga bagi seluruh rakyat Indonesia, mengenai sebuah fenomena semakin asingnya budaya di tanahnya sendiri. Hal ini juga menjadi bahan renungan bagi saya tentang fenomena generasi muda di kampung yang lebih merasa menjadi masyarakat kota daripada merasa sebagai orang kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar